Syeikh Abdul Qadir Al-Arna'ut rahimahullah
dilahirkan di Frila, di kawasan Balkan (saat ini Kosovo, yang dihuni
etnik Albania dan sedang berusaha upaya memisahkan diri dari republik
Serbia), pada tahun 1347H ( 1928M ),
kemudian hijrah bersama ayahandanya ke Damaskus saat beliau masih
berusia 3 tahun. Hijrah tersebut bagi kaum Muslimin di sana merupakan
upaya menyelamatkan diri dari penindasan kaum atheis komunis. Di
Damaskus, ia mendapatkan suasana yang kondusif dan tinggal di sana
melewati hari-hari yang diberkahi. Namun demikian, beliau pun terus
menjaga hubungan dakwahnya dengan negeri asalnya.
Beliau
dikenal dengan nama Abdul Qadir al-Arna`uth. Hanya saja, nama aslinya
dalam identitas diri adalah Qadri Shauqel Abdoe. Al-Arna`uth merupakan
penisbatan yang diberikan para khalifah Utsmaniah kepada para penduduk
di pinggiran negara Albania.
Perkembangan Ilmiah Dan Guru-Gurunya;
Syeikh al-Arna`uth tumbuh di Damaskus sedangkan ayahandanya adalah
seorang rakyat biasa yang mencintai ilmu. Ia menyerahkan al-Arna`uth
kecil kepada beberapa pengajian Syaikh. Di awal pertumbuhannya, ia
belajar Mabadi` al-Funun kepada Syaikh Shubhi al-‘Aththar dan Sulaiman
Ghawidji al-Albani (ayahanda syaikh Wahbi) di perkampungan Arna`uth di
Damaskus. Kemudian ia bekerja sebagai tukang jam di kelontong milik
Syaikh Sa’id al-Ahmar di kampung Emara. Syaikh al-Ahmar ini merupakan
seorang ulama jebolan universitas al-Azhar. Al-Ahmar kagum dengan
kecerdasan al-Arna`uth, lalu berkata kepada ayahandanya, “Anakmu ini
harus menjadi seorang penuntut ilmu.” Karena pesan itu, al-Arna`uth
bergabung dengan pengajian Syaikh Shalih al-Farfur di Jami’ Umawi. Para
rekannya ketika itu adalah Syaikh Abdur Razzaq al-Halabi, Ramzi al-Bazm,
Adib al-Kallas dan Syu’aib al-Arna`uth (Peneliti hadits terkenal juga).
Melihat Syaikh kita ini amat menonjol dalam membaca al-Qur`an sesuai
dengan ilmu tajwidnya, maka ia pun membacakan kepada para temannya
tersebut dan mengajarkan mereka ilmu tajwid. Kemudian ia terus
meningkatkan keilmuannya hingga membaca di hadapan Syaikh al-Qurra`,
Mahmud Faiz ad-Dir’athani dan mengkhatamkan bacaan al-Qur`an ala Qira`at
Hafsh. Gurunya ini amat suka dengan bacaan dan makhraj Syaikh kita yang
demikian bagus. Suatu hari ia berkata kepadanya, “Bacaanmu lancar.”
Gurunya itu berupaya agar ia terus bersamanya untuk menggabungkan
Qira`at, namun Syaikh kita lebih memilih untuk meninggalkan tempat
mengaji itu dan menimba ilmu hadits.
Perlu disinggung di sini,
sebahagian orang yang memuat biografi Syaikh kita ini sering menyebutkan
bahwa ia belajar dengan Syaikh Abdur Razzaq al-Halabi. Ini tidak benar,
sebab mereka berdua adalah berteman sejak awal menuntut ilmu.
Syeikh kita tidak meraih satu pun tanda tamat, yang dikenal di zaman
kontemporer ini dengan ijazah, selain ijazah kelas 5 Ibtidaiyah dari
Madrasah al-Is’af al-Khairi di mana beliau belajar di madrasah al-Adab
al-Islami selama dua tahun.
Syeikh kita terus menuntut ilmu,
muthala’ah dan berdakwah. Allah SWT menganugerahkannya hafalan yang kuat
sehingga dapat digunakannya untuk menerima ilmu dan menghafal. Beliau
menggunakan waktu selama di Dar al-Maktab al-Islami milik Syaikh Zuhair
asy-Syawis untuk mengambil manfaat dengan mendampingi al-‘Allamah
Muhammad Nashiruddin al-Albani rah, Syu’aib al-Arna`uth dan ulama selain
keduanya. Beliau juga mengambil manfaat dari hubungannya dengan Syaikh
as-Salifiyyin di Syam, Muhammad Bahjat al-Baithar, yang dikenal di
semananjung Syam, Hijaz dan Nejd.
Di akhir hayatnya, beliau
mendapatkan sebagian ijazah, di antaranya dari Abdul Ghani ad-Daqir dan
Syaikh Abdullah bin Abdul Aziz bin ‘Uqail Tadija.
Manhaj Salafi;
Di akhir masa belajarnya dengan Syaikh Shalih Farfur terjadi sedikit
masalah di antara keduanya. Intinya, beliau disidang karena dinilai
melakukan pelanggaran, iaitu memiliki buku al-Wabil ash-Shayyib karya
Ibn al-Qayyim.
Bertanya Syaikh Farfur: Untuk apa kitab itu (maksudnya wabilushShayyib)
al-Arna'uth: Aku membaca pada mukadimahnnya terdapat seratus faidah beserta rinciannya
Farfur berkata: Kamu tahu Ibnul Qayyim itu muridnya siapa?
Al Arna'uth: murid Ibnu taymiyah
Farfur: Bagaimana mungkin kita membaca buku2 ibnu Taymiyah?! Pergi dan bawa kawanmu - yakni Syaikh Syu'aib Al Arna'uth.
Karenanya, Syaikh kita ini diusir dari pengajian karena dituduh
menganut paham ‘Wahabi.’ Para temannya pun ikut mengisolirnya. Label
‘Wahabi’ di Damaskus kala itu merupakan tuduhan paling keji yang
dilekatkan kepada seseorang bahkan setara dengan kata ‘Zindiq.’!!
(Na’udzu billah Min Dzalik).
Ketika itu, Syaikh kita ini belum
mengetahui sesuatu pun tentang ‘Wahabiah.’ Akan tetapi setelah kejadian
itu dan pergelutan dininya dengan ilmu hadits, terutama setelah
mempelajari dan menghafal shahih Muslim serta mendapatkan arahan yang
baik dari Syaikh yang diberi usia panjang, Abdurrahman Albani
–hafizhahullah-, maka hal itu merupakan sebab langsung perubahannya
menjadi seorang Salafi, bahkan ia kemudian menjadi bagian dari
kepemimpinannya dan namanya menggaung di seantero Dunia Islam, apalagi
di bidang ilmu hadits. Kiranya, sepeninggal Syaikh al-Albani, belum ada
ulama yang lebih besar pengabdiannya terhadap ilmu hadits dari syaikh
kita ini. Hingga akhirnya, nama beliau diusulkan untuk meraih
penghargaan Raja Faishal kategori pengabdian terhadap Islam.
Pekerjaan Dan Rutinnya;
Syaikh kita ini dilimpahi tugas mengimami dan berkhutbah di Jami’
al-Arna`uth di awal usia 20-an. Di sana beliau berkenalan dengan
tetangganya, Syaikh al-Albani rah namun belum sempat terjadi kontak
ilmiah ketika itu.
Kemudian bersama sejumlah para dermawan,
beliau mendirikan Jami’ Umar bin al-Khaththab di kawasan al-Qadam,
selatan Damaskus. Di sana, beliau mengimami dan berkhutbah selama
sepuluh tahun. Kemudian juga menjadi khatib di Jami’ al-Ishlah di
kawasan ad-Dahadil selama sepuluh tahun, kemudian Jami’ al-Muhammadi di
al-Muzzah selama delapan tahun. Di sana, pada tahun 1415 beliau berhenti
berkhutbah.
Sedangkan dalam bidang pengajaran, maka beliau
telah memulainya dengan di pengajian syaikhnya, Shalih al-Farfur dalam
ilmu tajwid sebagaimana telah dipaparkan di atas. Kemudian mengajarkan
ilmu-ilmu al-Qur`an dan hadits di madrasah al-Is’af al-Khairi -dimana
beliau tamat- antara tahun 1373-1380.
Pada tahun 1381, beliau
pindah ke al-Ma’had al-‘Arabi al-Islami sebagai pengajar al-Qur`an dan
fiqih dan tetap mengajar di sejumlah Ma’had ilmiah di Damaskus hingga
sekitar dua tahun, tepatnya di Ma’had al-Aminiah.
Dengan
begitu, total masa belajar dengan menimba ilmu di bidang pengajaran,
menjadi imam dan khatib beliau jalani selama 50 tahun. Semua itu beliau
lakukan dengan mengharap pahala dari Allah SWT semata.
Perlu
diketahui, ‘Allamah Syam, Syaikh Muhammad Bahjat al-Baithar sebelumnya
telah menyerahkan tugas mengimami Jami’ asy-Syuriji di al-Maedan kepada
Syaikh kita, demikian juga dengan mengajar. Ini merupakan rekomendasi
ilmiah tertinggi kepada syaikh kita, al-Arna`uth.
Beliau juga
diangkat sebagai delegasi oleh Samahah asy-Syaikh Abdul Aziz bin Baz rah
ke kawasan Balkan untuk berdakwah sejak empat puluh lima tahun lalu.
Hal itu terjadi manakala keduanya berjumpa di Masjid Nabawi. Syaikh Bin
Baz tertarik dengan ceramah yang disampaikannya dan merasa yakin bahwa
ia menguasai bahasa Albania dengan baik.
Syaikh kita,
al-Arna`uth aktif memberikan fatwa kepada masyarakat dan ikut memberikan
solusi bagi permasalahan mereka. Tidak ada orang yang bisa menandingi
beliau ketika itu selain Samahah asy-Syaikh Bin Baz. Semua orang dari
berbagai penjuru Suriah mengambil fatwa darinya, terutama dalam masalah
Talak di mana beliau berfatwa sesuai dengan pendapat Syaikhul Islam, Ibn
Taimiah. Beliau terus berfatwa untuk seluruh lapisan masyarakat hingga
beberapa bulan menjelang wafatnya.
Dapat dikatakan di sini,
bahwa pintunya selalu terbuka buat para penuntut ilmu, sampai-sampai
beliau tidak bisa mengatur waktunya dengan orang-orang yang
berkepentingan dengannya.
Beliau juga sering bepergian untuk
berdakwah, menyampaikan ceramah dan mengikuti berbagai seminar ke
berbagai negara. Beliau memiliki hubungan yang kontinyu dengan para
ulama kerajaan Arab Saudi dan lainnya. Aktifitas Ilmiahnya Beliau tidak
terlalu konsern dengan dunia karya tulis. Di antara risalahnya yang
paling masyhur adalah al-Wajiz Fi Manhaj as-Salaf ash-Shalih Wa Washaya
Nabawiah. Namun Syaikh kita ini dikenal dan tersohor dengan berbagai
Tahqiq-nya terhadap sejumlah buku. Bahkan beliau terrmasuk orang yang
banyak melakukan hal itu di mana beliau telah menahqiq lebih dari 60
buku dalam berbagai disiplin ilmu keislaman. Barangkali di antara buku
paling masyhur yang dikeluarkannya sejak 40 tahun lalu adalah Jami’
al-Ushul karya Ibn al-Atsir dalam 15 jilid. Buku itu hingga saat ini
masih menjadi rujukan dan ensiklopedia cetak paling penting yang dicetak
dan melayani ilmu hadits. Banyak para peneliti menukil putusan hadits
yang beliau keluarkan di sana. Kitab inilah yang menjadikan Syaikh kita
lebih dominan di bidang hadits.
Amal-Amal Beliau;
Syaikh menjabat Imam dan khatib di Masjid Jami Al-Arna'uth pada usia
sekitar 20 tahun. Saat itu beliau dikenal oleh tetangga beliau Syaikh
al-Albani tetapi belum ada hubungan ilmiah saat itu. Perlu diketahui
bahwa Allamah asy-Syam Syaikh Muhammad Bahjat Baithar rahimahullah
pernah menemuinya ketika menjabat sebagai Imam dan pengajar di masjid
Jami' As-Syurbuji di Maidan, hal ini adalah tazkiah ilmiah yang tinggi
pada beliau. Sebagaimana Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Baz
rahimahullah mengutusnya untuk berdakwah di Balkan sejak empat puluh
lima tahun yang lalu. Hal itu ketika beliau bertemu di Nasjid Nabawi.
Maka Syaikh takjub dengan perkataannya dan kemampuannya berbicara dalam
bahasa albania.Syaikh Al Arna'uth sebagai mufti bagi manusia dan
membuka pintukesulitan2 mereka, yang paling utama diantara mereka adalah
syaikhbin Baz. Sampai bertanya padanya orang2 dari negeri suriah,
terutamadalam hal thalaq, karena beliau menjawab menurut madzhab
syaikhulIslam ibnu taymiyah.beliau turut pula safar dalam rangka da'wah,
menghadiri ceramah umum,dan muktamar ke berbagai negara, serta mnejalin
hubungan dengan paraulama saudi arabia.
Karya-Karya Ilmiah;
Di antara karya syeikh yang terkenal adalah Al-Wajiz Fi Manhaj Salafus
Shalih Wal Washaya Nabawiyah. Beliau terkenal dengan tahqiq dan
tashhih(penshahihan hadits)nya terhadap berbagai kitab. Beliau lebih
dari 60 kitab dari berbagai ilmu islam, yang paling terkenaladalah yang
telah terbit sejak 40 tahun lalu kitab Jami'ul ushulkarya ibnu Atsir
sebanya 15 jilid. Kitab ini adalah peninggalanterpenting dan rujukan
utama dalam ilmu hadits, banyak 'ulama danpenelaah menukil dari
kesimpulan beliau disana. Kitab inilah yangmenjadikan beliau sangt
terkenal dalam bidang hadits.Kitab lain yang terkenal seperti tahqiq
terhadap Zaadul Ma'ad bersama Syaikh Syu'aib Arnauth. Selain itu tahqiq
kitab seperti Al Adzkar AnNawawiyah, Zaadulmusayyar fil ilmi tafsir,
Ghayatul muntaha, Al mubdi' Syarhul Muqni',Raudhatuth Thalibin, Jalaa'ul
Afham, Misykatul mashaabih, Al kaafiilil muwaffiq, Raf'ul Malaam an
aimmatil a'lam karya ibnu taymiyah, Mukhtashar Minhajul Qashidin, Fathul
majid, Syarh Tsalatsatul musnad,Mukhtashar syu'abul iman, Al Furqan
karya ibnu Taymiyah, dan banyaklagi.
Beliau juga banyak memberikan pengantar pada sejumlah buku, di antaranya Jamharah al-Ajza` al-Haditsiah.
Sifat Peribadi dan Akhlaknya;
Syaikh kita berkulit putih kemerahan, bermata biru, perang, agak tinggi
dan tegap. Hal ini karena beliau mantan atlet di masa mudanya. Allah
menjaga kesehatannya secara umum hingga malam wafatnya. Hanya saja,
patah kaki yang dideritanya yang mempengaruhi kedua lututnya
mengharuskannya menjalani operasi penggantian kedua sendi lutut setelah
sekian tahun menderita. Lalu di akhir umurnya, beliau mengalami semacam
‘stroke’ ringan yang berpengaruh bagi wajahnya.
Syaikh
al-Arna`uth juga sosok yang selalu ceria, pandai beranekdot dan
berkelakar. Di antara sifat utamanya, ia tidak mengenal kata takabur dan
tidak memandang dirinya beruntung. Secara fitrah, ia amat tawadhu’ dan
ilmu yang dimilikinya menambah ia semakin tawadhu’. Dalam tanda tangan
yang dibubuhkannya dan di sisi namanya, ia selalu menulis, “Hamba yang
faqir kepada Allah Yang Maha Tinggi Lagi Maha Kuasa, Abdul Qadir
al-Arna`uth, Khadim (Pengabdi) ilmu hadits di Damaskus.”
Sekalipun demikian, beliau seorang yang kuat dan pemberani dalam
menyatakan kebenaran dan membelanya. Banyak sekali sikap yang
menunjukkan kegigihannya dalam membela as-Sunnah, menentang bid’ah dan
kemungkaran para pelakunya.
Beliau juga seorang yang dermawan,
pandai bergaul dengan masyarakat, selalu menghadiri undangan dan
momen-momen yang diadakan mereka. Hanya saja, di antara perbedaannya
dengan banyak tuan guru, bahwa beliau hampir tidak pernah walau sedetik
pun membuang waktunya tanpa meminta petunjuk dan nasehat. Begitu duduk,
ia dengan suaranya yang lantang dan fasih berkata, “Fulan dan Fulan
meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata, Rasulullah SAW
bersabda….” Lalu beliau mengetengahkan sejumlah hadits yang sesuai
dengan kondisi. Semua itu dibacanya dari hafalannya yang jitu,
meriwayatkannya secara harfiah, bukan makna, dengan begitu fasih, bukan
dengan mengulang-ulang atau terbata-bata.
Perkataan Para Ulama;
Syaikh Abdurrahman Syaghur memuji beliau seperti al-Albani .Hanya
beliau tidak sepakat terhadap permasalahan ijtihadiyah seputar emas
melingkar yang difatwakan al-Albani dan beberapa masalah ijtihadiyah
lainnya. tetapi ini dalam perkara ilmu, Dalam masalah hati, beliau
sangat mencintai dan memuliakan syaikh al-Albani, begitu pula syaikh
Nashir Al albani mencintai dan memuliakannya.
Terlihat Syaiklh
al-Albani membantahnya dengan keras, maka hal ini- yaa akhi-thariqah
beliau yang terkenal dalam membela al-haq. jika berziarah ke Jordan,
beliau berziarah ke Syaikh Nashir al-Albani, dan Syaikh al-Albani begitu
juga, bahkan salah seorang tsiqat mengatakan bahwa Syaikh al-Albani
ditanya kepada siapa orang akan dirujuk mengenai hadits setelah beliau,
beliau menjawab: Syaikh Abdul Qadir al-Arna'uth.
Wafatnya Dengan Tanda 'Husnul Khatimah';
Beliau wafat di Damaskus, pada pagi Jumaat, 13 Syawal 1415 H sesuai
kalender Suriah dan Ummul Qura, di Arab Saudi, atau 14 Syawwal
berdasarkan ru’yah hilal di Arab Saudi.
Muhammad, anak Syaikh
Abdul Qadir al-Arna`uth berkata, “Syaikh kita kemarin, Kamis, masih
segar bugar, kemudian ia tidur. Tatkala ibunda saya hendak
membangunkannya untuk shalat fajar, ia tidak menyahut. Kemudian ia
menggerak-gerakkannya namun mendapatinya telah menghembuskan nafasnya
yang terakhir sementara keningnya tampak berpeluh. Tidak ada keluarganya
yang merasakan firasat apapun terhadapnya. Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi
Raji’un.”
Selepas solat Jumaat di Jami’ Zainal ‘Abidin, di
jalan al-Maedan, beliau disolati dengan imam Syaikhul Qurra` di Syam,
Syaikh Karim Rajih –hafizhahullah.- Sebelum solat, Jami’ tersebut telah
disesaki jemaah. Demikian pula, jalan-jalan penuh sesak padahal suhu
udara amat dingin. Sudah lama sekali, Damaskus belum pernah lagi
menyaksikan suasana jenazah yang dihadiri ribuan orang seperti itu.
Kita memohon kepada Allah, semoga Syaikh kita mendapatkan Husnul
Khatimah. Semoga di antara yang menjadi indikasinya, beliau wafat
setelah bulan Ramadhan, dengan peluh yang tampak di kening, di hari
Jum’at dan wafat dengan penuh ketegaran, kemuliaan dan kemantapan
sekalipun beberapa waktu sebelum ajalnya, ia menghadapi banyak tekanan
dan gangguan. Kita memohon kepada Allah agar menaungi beliau dengan
rahmat-Nya, menggantikan bagi umat ini orang-orang semisalnya, serta
meringankan penderitaan yang dialami keluarga, para murid dan handai
taulannya. Sesungguhnya Dia Maha Pemberi Lagi Maha Mulia.
Semoga Allah merahmati syaikh kita dan menempatkannya di surganya nan maha luas.
Sumber: http://tamanulama.blogspot.com/2007/12/syeikh-abdul-qadir-al-arnaut-temui.html dipublikasikan oleh http://faizmuslimshop.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar