Oleh
Ustadz Ahmas Faiz Asifuddin
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab berasal dari keluarga (Ali) Musyarraf.
Sedangkan keluarga Musyarraf merupakan cabang dari keluarga (Ali)
Wuhabah. Dan keluarga Wuhabah adalah salah satu dari keluarga besar
kabilah Bani Tamim yang terkenal.[1]
Musyarraf, menurut riwayat yang rajih, adalah kakek Syaikh Muhammad bin
‘Abdul Wahhab yang kesembilan. Jadi nama lengkap beliau adalah: Muhammad
bin ‘Abdul-Wahhab bin Sulaiman bin ‘Ali bin Muhammad bin Ahmad bin
Rasyid bin Buraid bin Muhammad bin Buraid bin Musyarraf.[2]
Beliau berasal dari keluarga yang dikenal sebagai keluarga para Ulama.
Dan pada abad ke XI Hijriyah, Ulama paling terkenal yang ada di Najed
adalah kakek langsung beliau, yaitu Sulaiman bin ‘Ali yang menjabat
sebagai Qadhi (hakim agama) di Raudhah Sudair. Setelah berhenti, beliau
pindah ke ‘Uyainah dan menjabat sebagai Qadhi pula serta menjadi Syaikh
(guru ilmu-ilmu syar’i) bagi sejumlah penuntut ilmu. Di antara penuntut
ilmu syar’i itu adalah dua orang puteranya yang bernama ‘Abdul-Wahhab
(ayah Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab) dan Ibrahim (paman beliau).
Kelak ‘Abdul-Wahhab pun menjadi seorang ‘alim yang kemudian menduduki
jabatan Qadhi di ‘Uyainah, sungguhpun tidak sebesar tingkat keilmuan
ayahnya (Sulaiman).[3]
Singkat kata, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah dilahirkan
di tengah keluarga Ulama yang bila ditinjau dari sisi kedudukan, berasal
dari keluarga terpandang, dan bila ditinjau dari sisi ekonomi juga
bukan dari keluarga miskin, karena orang tua maupun kakeknya adalah
Qadhi. Beliau dilahirkan di ‘Uyainah pada tahun 1115 H, atau kurang
lebih tahun 1703 M.[4]
Demikian sekilas tentang nama, kelahiran serta keluarga tokoh Ulama
mujaddid abad XII H, Syaikh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah.
BENARKAH SYAIKH MUHAMMAD BIN ‘ABDUL-WAHHAB TIDAK MEMILIKI GURU?
Ada dua kemungkinan ketika orang berbicara miring tentang seseorang.
Kemungkinan Pertama : Ia benar-benar tidak mengerti dan mengenal
seseorang tersebut. Jika inilah kemungkinannya, mestinya ia tidak boleh
berbicara tentangnya. Sebab berarti ia hanya berbicara secara
serampangan, tidak berdasarkan ilmu. Orang-orang yang mengerti akan
menertawakannya.
Kemungkinan Kedua : Ia mengerti tetapi sangat membenci dan mendendamnya,
sehingga yang dikatakannya tentang orang itu keluar dari hati yang
penuh kedengkian. Jika demikian halnya, maka bisa dipastikan bahwa
sebagian besar kata-katanya akan diwarnai kedustaan dalam rangka
menjatuhkan orang yang sangat dibencinya itu.
Tampaknya demikianlah kata-kata miring tentang Syaikh Muhammad bin
‘Abdul-Wahhab rahimahullah, hanya berasal dari salah satu dari dua
kemungkinan di atas atau dua-duanya. Untuk itu perlu pemaparan serba
sedikit tentang perjalanan beliau rahimahullah menuntut ilmu.
Masa kecil Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahulla lebih banyak
dipergunakan untuk mempelajari al-Qur’an, tidak banyak dipergunakan
untuk bermain-main bersama teman sebayanya, sehingga beliau telah hafal
al-Qur’an sebelum umurnya mencapai 10 tahun. Beliau memiliki ketajaman
pemahaman yang luar biasa, cerdas, cepat menghafal dan fasih pengucapan
kata-katanya.[5]
Seperti telah dipaparkan sebelumnya, beliau rahimahullah lahir dari
keluarga Ulama. Kakeknya seorang alim besar di zamannya dan juga seorang
Qadhi, demikian pula ayahnya. Maka jelas, beliau hidup dan tumbuh dalam
lingkungan keluarga Ulama. Sehingga wajar semenjak kecilnya beliau
rahimahullah sudah memiliki motivasi menuntut ilmu syar’i yang tinggi.
Sebelum beliau rahimahullah melakukan perjalanan jauh ke berbagai negeri
untuk menuntut ilmu, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah
menyibukkan diri dengan sungguh-sungguh menggali ilmu agama dari ayahnya
sendiri. Maka dasar-dasar ilmu yang kuat sudah beliau miliki semenjak
umur beliau berkisar antara sepuluh tahun di ‘Uyainah, salah satu daerah
di Najed. Ayahnya sampai terrheran-heran melihat semangat serta
kecerdasan beliau [6]. Bahkan ayahnya sempat berkata,”Aku benar-benar
dapat mengambil banyak faidah hukum dari Muhammad, anakku.” Atau
kata-kata senada.[7]
Beliau rahimahullah mencapai usia baligh sebelum usianya genap 12 (dua
belas) tahun. Pada usia itu, sesudah usianya baligh, beliau sudah
disuruh menjadi imam shalat oleh ayahnya, dan ayahnya pun
menikahkannya.[8] Di sini jelas bahwa ayahnya merupakan salah satu
gurunya.
Setelah itu, pada usia yang sama, beliau rahimahullah pergi haji
memenuhi rukun Islam yang kelima dan selanjutnya beliau rahimahullah
mengunjungi kota Madinah dan menetap di sana selama dua bulan, baru
sesudah itu beliau kembali ke kampung halamannya.[9] Itu adalah
perjalanan ibadah haji pertama beliau.[10] Dan tampaknya, selama dua
bulan beliau tinggal di Madinah beliau sempat menghadiri beberapa
pelajaran dari beberapa Ulama di Masjid Nabawi. Tetapi yang paling
berpengaruh bagi beliau adalah ketika beliau bertemu dengan dua orang
ulama besar yang kelak menjadi guru-gurunya pula pada pengembaraan
ilmiah berikutnya, yaitu Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim bin Saif dan
Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi.[11]
Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim bin Saif adalah seorang Ulama yang ahli
dalam bidang fiqih Hanbali dan dalam bidang hadits. Juga pengagum
Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah.[12] Berasal dari keluarga Al-Saif yang
selalu menjadi kepala pemerintahan di daerah Majma’ah, suatu daerah yang
ada di wilayah Sudair di Najed.[13] Beliau juga adalah ayah dari Syaikh
Ibrahim bin ‘Abdullah bin Ibrahim bin Saif, penyusun Kitab al-‘Adzbu
al-Faidh, Syarh Alfiyati al-Fara-idh.[14]
Sedangkan Syaikh Muhammad Hayat as-Sindi adalah seorang Ulama bidang
hadits, berasal dari Sindustan yang kemudian menetap dan wafat di
Madinah.[15] Di samping sebagai seorang tokoh Ulama bidang hadits dan
‘Ulum al-Hadits, beliau juga seorang tokoh penyeru ijtihad dalam masalah
syari’at, dan penentang ta’ash-shub madzhabi (fantisme madzhab).
Beliaupun dikenal sebagai orang yang paling keras memerangi bid’ah dan
perbuatan-perbuatan yang bisa menjadi tangga menuju syirik.[16]
Sepulang dari perjalanan itu beliau lebih bersemangat lagi menuntut
ilmu. Di samping memperdalam ilmu fiqih madzhab Ahmad bin Hanbal kepada
ayahnya, beliau juga rajin mempelajari kitab tafsir, hadits dan tauhid
serta menelaah pendapat para Ulama.[17]
Selanjutnya beliau mengembara untuk menuntut ilmu syar’i ke berbagai
negeri yang berdekatan dan berguru kepada para Ulama besar di
negeri-negeri tersebut. Beliau pergi ke Hijaz dan Bashrah beberapa kali,
juga ke Ahsa’.[18] Pada pengembaraan yang memakan waktu lebih panjang
inilah beliau secara lebih mendalam mempelajari ilmu-ilmu syar’i kepada
para Ulama gurunya. Sebagian di antaranya adalah para Ulama terkenal
yang sudah disebut namanya di atas.
Sementara di Bashrah, beliau berguru pula kepada banyak Ulama tentang
hadits dan fiqih. Juga tentang ilmu nahwu hingga betul-betul
menguasainya.[19] Salah satu di antara Ulama itu berasal dari daerah
Majmu’ah di Bashrah, yaitu Syaikh Muhammad al-Majmu’i, seorang Ulama
yang beserta anak-anaknya termasuk keluarga yang terkenal sebagai
orang-orang shalih dan berpegang pada ajaran tauhid.[20]20 Sedangkan di
Asha’, beliau juga bertemu dengan para Ulama, di antaranya Syaikh
‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdul Lathif asy-Syafi’i al-Ashsa-i.[21]
Jadi tidak benar kalau beliau dinyatakan tidak mempunyai guru. Bahkan
guru-guru beliau cukup banyak, dan merupakan para Ulama yang dikenal di
zaman itu, baik di ‘Uyainah, Madinah, Bashrah, Ahsa’ maupun di tempat
lain. Yang sangat menonjol di antara guru-guru beliau, adalah yang sudah
disebutkan di atas. Bahkan beliau juga mendapat ijazah dan sanad, di
antaranya dalam riwayat hadits, dari Syaikh ‘Abdullah bin Ibrahim bin
Saif an-Najdi al-Madani.[22]
BENARKAH BELIAU TIDAK MEMILIKI KARYA MONUMENTAL?
Karena kondisi masyarakat yang menuntut beliau sibuk terjun langsung
menangani dakwah, maka beliau memang tidak menyusun kitab karya besar
yang berjilid-jilid. Tetapi bukan berarti bahwa karya beliau tidak
memiliki karya-karya monumental. Meskipun banyak di antara karyanya yang
ringkas dan padat, tetapi ternyata banyak Ulama yang kemudian mensyarah
karya-karya ringkas beliau. Banyak karya ringkasnya memiliki lebih dari
satu syarah dari para Ulama. Mengapa? Tentu karena pentingnya karya
yang beliau susun. Singkat namun sarat berisi pelajaran yang perlu
digali, dikaji dan disampaikan kepada khalayak.
Sebagai contoh, kitab karya beliau yang berjudul Kitab at-Tauhid
al-Ladzi Huwa haqqullah ‘ala al-‘Abid, lebih dari lima orang Ulama yang
telah mensyarahnya, dan kitab asli maupun kitab syarahnya selalu dikaji
semenjak dahulu hingga sekarang. Demikian pula kitab Kasyfu
asy-Syubuhat, Kitab Ushul as-Sittah dan lain-lain, terdapat beberapa
Ulama yang telah mensyarahnya.
Orang-orang yang cerdas akan memahami dan mengakui kehebatan Syaikh
Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah, justeru karena singkat dan
padatnya karya tersebut, namun sarat dengan ilmu. Kehebatan beliau
antara lain terletak pada sikap tanggap beliau bahwa pada saat itu yang
tepat adalah menyusun karya-karya ringkas dan praktis yang sesuai dengan
kebutuhan masyarakatnya.
Hanya orang-orang dangkal, picik dan miskin pengalaman saja yang
mengatakan bahwa ukuran kehebatan keulamaan seseorang ditentukan oleh
banyak dan besarnya karya yang dihasilkannya. Sehingga jika karya-karya
yang dihasilkan seseorang hanya singkat saja meskipun padat dan sarat
ilmu, dianggap tidak berarti.
Karya-karya Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah, meskipun
kebanyakan merupakan karya ringkas, namun jutaan umat Islam yang
membutuhkannya. Mereka berulang-ulang membacanya, mempelajari kandungan
pesan-pesannya dan mengamalkan kebenaran yang ada di dalamnya. Bahkan
karya-karya beliau rahimahullah selalu dibaca dan dicetak ulang sejak
beliau masih hidup sampai beberapa ratus tahun kemudian hingga sekarang.
Karya ilmiah yang bermanfaat, semoga pahalanya selalu mengalir kepada
pemiliknya, sesuai dengan sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa
sallam:
إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ :
إلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ, أَوْعِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ, أَوْ وَلَدٍ
صَالِحٍ يَدْعُولَهُ. رواه مسلم
Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputus darinya (pahala)
amalnya kecuali tiga hal: kecuali shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat
dan anak shaleh yangmendoakannya. [HR Muslim][23].
Karya-karya beliau tidak sama dengan karya-karya para pembencinya yang
sarat dengan kedengkian, dendam, hasutan dan caci maki. Namun karya
beliau sarat dengan petunjuk al-Qur’an dan Sunnah sesuai dengan
pemahaman Ahlu Sunnah wal-Jama’ah. Kalaupun terdapat kekeliruan, itu
adalah karena beliau manusia biasa yang tidak ma’shum dari kesalahan,
dan itupun tidak dominan.
BENARKAH BELIAU HAUS DARAH?
Gambaran yang dikesankan secara licik, tidak gentle dan jauh dari jujur
oleh para pembencinya adalah bahwa beliau rahimahullah merupakan orang
kasar yang buas terhadap siapa saja yang tidak sejalan dengannya.
Benarkah demikian? Bukankah justeru para pembencinya, orang-orang yang
sejatinya tidak benar-benar siap menerima kebenaran, itulah orang-orang
yang selalu merasa bahwa dirinya harus diikuti kemauannya? Jika kalah
hujjah, bukankah fisik mereka yang akan berbicara, terutama jika
memiliki kekuatan massa, meskipun dengan jalan yang melanggar syari’at?
Untuk mendukung semangat antipatinya, mereka membesar-besarkan
penyematan sebutan Wahabi kepada orang-orang yang dianggap pengikut
Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah.[24] Itupun dengan
generalisasi sebutan kepada setiap orang yang dianggap lawan. Meskipun
sebenarnya banyak di antara yang disebut wahabi itu justeru berlawanan
pandangannya dengan prinsip Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab
rahimahullah. Penyebutan wahabi itu sendiri sesungguhnya tidak jelas
asal-usulnya, kecuali dari musuh-musuh beliau.
Khairuddin az-Zirkli, seorang penulis abad 20, yang menyusun
berjilid-jilid buku biografi tokoh dunia berjudul al-A’lam, Qamus
Tarajum li Asyhari ar-Rijal wa an-Nisa min al-‘Arab, wa al-Musta’ribin
wa al-Mustasyriqin, memuat tokoh mana saja yang dianggap berpengaruh,
baik dari berbagai aliran umat Islam, maupun tokoh-tokoh orientalis. Ia
telah secara jujur dan jelas memuat nama harum Syaikh Muhammad bin
‘Abdul-Wahhab rahimahullah.
Di antaranya az-Zirikli mengatakan,”orang-orang yang setia dan mendukung
da’wah beliau (Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah) di
jantung Jazirah Arab dikenal sebagai ahli tauhid, yaitu Ikhwan Man
Atha’a Allah (para saudara yang taat kepada Allah). Sementara
lawan-lawan mereka menamainya sebagai wahabiyun. Nisbat kepada Syaikh
Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab. Akhirnya sebutan Wahabi ini menjadi sangat
popular di kalangan orang-orang Eropa dan mereka memasukkannya ke dalam
buku-buku biografi karya mereka. Tetapi sebagian penulisnya telah salah
ketika menganggap bahwa ini adalah madzhab baru dalam Islam, sebabnya
adalah karena mengekor saja pada cerita bohong yang diada-adakan oleh
lawan-lawan beliau. Yaitu, terutama, para propagandis dari orang-orang
yang menyebut diri sebagai khalifah-khalifah Utsmaniyah di Turki.[25]
Jadi menurut az-Zirikli, sebenarnya sebutan Wahabi berasal dari
lawan-lawan Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah. Yaitu,
lawan-lawan yang kebenciannya terhadap beliau mencapai puncak ubun-ubun,
karena da’wah yang beliau sampaikan tidak pernah kunjung padam, da’wah
yang merupakan kepanjang tangan dari da’wah para Ulama sebelumnya.
Da’wah yang menghidupkan serta menyegarkan kembali ajaran dan Sunnah
Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sementara itu para penguasa Turki yang menyebut diri sebagai dinasti
Khilafah Utsmaniyah menjadi gerah dengan munculnya sebuah negara yang
semakin kuat di Jazirah Arab akibat keberhasilan da’wah Syaikh Muhammad
bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah yang di dukung oleh Imam Muhammad bin
Su’ud.
Jauh sebelum kemunculan negeri tauhid yang aman dengan pusat
pemerintahan di Dir’iyyah, umumnya wilayah Najed sesungguhnya berada di
luar kemampuan kontrol Khilafah Utsmaniyah. Wilayah yang sebelum
kehadiran da’wah tauhid selalu diwarnai oleh kebatilan, kekufuran,
kemusyrikan dan pertumpahan darah akibat perseteruan antar kabilah atau
akibat perebutan kekuasaan yang tidak pernah berhenti; begitu da’wah
tauhid masuk dan negara tegak, maka menjadi amanlah keadaan. Dan yang
perlu difahami, negeri yang muncul dengan da’wahnya ini tidak pernah
menyatakan keluar untuk melakukan penentangan terhadap pusat Khilafah
Utsmaniyah di Turki. Hanya karena kekhawatiran berlebih dari para
penguasa Khilafah Utsmaniyah-lah, maka pada penghujung berakhirnya
Negara Saudi Arabia pertama, melalui para Basya yang berkuasa di Mesir,
mereka melakukan penyerangan hingga tumbanglah negeri tersebut. Maka
kembalilah kondisi menjadi kacau, pertumpahan darah kembali mewarnai
kehidupan umat akibat perkelahian antar kabilah atau perebutan kekuasaan
antar penguasa-penguasa kecil. Masyarakat tidak lagi merasa tenteram.
Penguasa wilayah selalu dibayangi maut. Sementara Mesir tidak pernah
mampu mengurus dan mengontrolnya.[26]
Tentang sejarah awal berkembangnya cikal bakal Negeri Saudi Arabia itu
sendiri beserta peristiwa-peristiwa yang menyertainya, telah diceritakan
antara lain oleh Hushain bin Ghunnam, salah seorang murid Syaikh
Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab, dalam Tarikh Najed (Raudhatu al-Afkar wa
al-Afham li Murtad Hali al-Imam wa Ti’dad Ghazawat Dzawi al-Islam).[27]
Sejarah yang dapat dipercaya, karena ditulis oleh seorang muslim yang
‘alim dan adil.
Inti sarinya adalah bahwa semenjak da’wah tauhid di Najed, yang kala itu
berpusat di Dir’iyyah, menjadi kuat dengan dukungan pemerintahan, maka
pemerintahan dengan kekuatan da’wahnya selalu dibanjiri warga-warga baru
yang berbondong-bondong ingin bergabung ke dalamnya. Sebagian besar
warga baru yang datang adalah karena haus akan kebenaran da’wah yang
disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah.
Sementara beliau juga rajin mengajak para Ulama dan para pemimpin
negeri-negeri tetangga untuk bergabung dengan negara baru yang berdiri
atas dasar da’wah tauhid ini. Maka bergabunglah para pemimpin sebagian
negeri tersebut, termasuk pemimpin negeri ‘Uyainah, Huraimila dan
Manfuhah.
Perkembangan da’wah ini tentu menimbulkan kekhawatiran para pemimpin
negeri sekitar yang anti terhadap kebenaran. Padahal Syaikh Muhammad bin
‘Abdul-Wahhab rahimahullah sebagai tokoh Ulama dan Imam Muhammad bin
Su’ud rahimahullah sebagai negarawan, tidak henti-hentinya berusaha
memberikan nasihat serta mengajak para pemimpin tersebut dengan cara
hikmah untuk kembali kepada ajaran Islam menurut syari’at Rasulullah
Shallallahu ‘alaihi wa sallam dan begabung menciptakan kedamaian
bernegara. Salah satu contohnya adalah kepada seorang penguasa Riyadh
yang bernama Daham bin Dawwas. Tetapi orang ini terkenal licik dan
semena-mena terhadap rakyatnya. Ia memperoleh kekuasaan di Riyadh pun
dengan cara licik, curang dan keji terhadap ahli waris yang sebenarnya.
Ayahnya, Dawwas, yang pernah berkuasa di wilayah Manfuhah, juga terkenal
memiliki watak kejam. Awalnya Daham bin Dawwas tidak pernah menunjukkan
permusuhannya secara langsung terhadap da’wah Syaikh Muhammad bin
‘Abdul-Wahhab rahimahullah serta kekuasaan Imam Muhammad bin Su’ud
rahimahullah. Bahkan ketika Daham menghadapi upaya pemberontakan
rakyatnya, ia meminta bantuan Imam Muhammad bin Su’ud rahimahullah yang
dengan senang hati memenuhinya.
Namun Daham memang sangat membenci da’wah tauhid dan memusuhi
pemerintahan yang berpusat di Dir’iyyah. Setiap ia mengetahui ada
warganya yang taat beragama Islam, selalu ditindas dengan kekejiannya.
Sehingga pada akhirnya, ketika ia mendengar bahwa wilayah Manfuhah sudah
bergabung dengan Dir’iyyah, maka secara licik dan khianat ia melakukan
penyerbuan ke Manfuhah, apalagi ia memiliki dendam lama terhadap warga
Manfuhah karena keluarganya terbunuh dan terusir dari sana akibat ulah
sendiri. Sementara pemimpin dan warga Manfuhah tidak menaruh curiga sama
sekali karena Daham selalu menampakkan persahabatannya terhadap Imam
Muhammad bin Su’ud. Tetapi Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak menghendaki
makarnya sukses. Sebagian warga Manfuhah ternyata sempat mengetahui
tindakannya. Akhirnya Dir’iyyahpun sempat mengirimkan bantuan untuk
memberikan perlawanan kepada pasukan penyerbu. Hasilnya Daham bin Dawwas
mengalami kekalahan telak dan terpaksa melarikan diri dari Manfuhah
menuju Riyadh dengan membawa luka-luka dan jari-jari kakinya putus.[28]
Tentu musuh-musuh tauhid bukan hanya Daham bin Dawwas, tetapi demikian
secara ringkas, contoh dari kisah awal bagi mulainya
pertempuran-pertempuran yang ada, yang awalnya karena kecurangan,
kelicikan dan kedengkian musuh.
Maka tidak benar jika Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab rahimahullah
dikatakan haus darah, bahkan jika seseorang dengan jujur membaca
risalah-risalah yang beliau kirimkan waktu itu kepada para tokoh,
pemimpin dan Ulama di negeri-negeri sekitar, ia akan dapat menarik
kesimpulan bahwa risalah-risalah itu berisi kebenaran, jauh dari
provokasi dan hasutan untuk tujuan petumpahan darah. Risalah-risalah itu
diutarakan dengan bahasa lugas, jelas, terbuka, namun sopan dan penuh
hikmah serta kuat hujjahnya hingga sulit terbantahkan. Di dalamnya hanya
berisi ajakan berfikir, ajakan amar ma’ruf nahi munkar, ajakan untuk
tidak membiarkan umat dalam kejahatan dan kegelapan. Ajakan yang intinya
supaya hanya beribadah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala saja serta
meninggalkan kemusyrikan dan kema’siatan. Dan itu langsung ditujukan
kepada orang yang menjadi tujuannya. Bukan hasutan, atau caci makian
atau kekejian. Kemudian sebagian lain dari risalah itu berisi jawaban
terhadap pertanyaan-pertanyaan yang masuk, dan sebagian lainnya lagi
merupakan penjelasan terhadap apa yang dituduhkan secara tidak benar
kepada beliau. Hushain bin Ghunnam dalam Tarikh Najed[29] telah memuat
banyak di antara risalah-risalah beliau itu.
Ini menunjukkan kekuatan ilmu, hujjah, hikmah serta kesabaran dan
kepribadian hebat penulisnya, yaitu Syaikh Muhammad bin ‘Abdul-Wahhab
rahimahullah. Tidak ada seorang pun di antara para pembencinya di zaman
dahulu yang dengan gentle melawan hujjahnya, kecuali dengan kelicikan,
kecurangan, pengkhianatan, isu-isu dusta dan terakhir dengan tindakan
fisik.
Jadi tidak ada bukti sama sekali tentang sejarah berdarah itu, yang ada
justeru terciptanya kedamaian, karena sejak semula da’wah beliau sudah
diawali dengan kedamaian, meskipun tegas, lugas dan kuat hujjahnya,
namun tidak kasar. Jika da’wah tersebut diawali dengan ujung pedang,
atau diwarnai intrik politik yang busuk, atau dilakukan dengan sikap
kasar, penuh tekanan dan permusuhan, apa mungkin –sesudah taufiq Allahl-
dakwah itu bisa sukses dan mampu menggugah kesadaran umat hingga
sekarang, sedangkan beliau pun tetap dikagumi dan disegani baik oleh
kawan maupun lawan, terutama yang gentle? Walillahi al-Hamdu wa
al-Minnah.
Maraji’:
1. Tarikh al-Mamlakah al-‘Arabiyyah as-Su’udiyyah, Dr. ‘Abdullah ash-Shalih al-‘Utsaimin, Juz I, cet.XVI, 1432 H/2011M.
2. Tarikh Najed (Raudhatu al-Afham wa al-Afkar Li Murtad Hali al-Imam wa
Ti’dad Ghazawat Dzawi al-Islam), karya Imam Husain bin Ghunnam, Syirkah
Maktabah wa Mathba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi wa Auladi, Mesir,cet
I, th.1368 H/1949 M.
3. ‘Unwan al-Majd Fi Tarikh Najed, Maktabah ar-Riyadh al-Haditsah,
Riyadh, karya al-‘Allamah al-Muhaqiq ‘Utsman bin Bisyr an-Najdi, tanpa
tahun.
4. Shahih Muslim Bi Syarhi an-Nawawi, tahqiq:Khalil Ma’mun Syiha, Dar al-Ma’rifah, Beirut,cet.III,1417 H/1996 M.
5. Al-A’lam, Qamus Tarajum li Asyhari ar-Rijal wa an-Nisa min al-‘Arab,
wa al-Musta’ribin wa al-Mustasyriqin, karya az-Zirikli (ejaan b. Inggris
Al-Zerekly), Dar al-‘ilmi Lil Malayin. Zuhair Fathullah, musyrif
pencetakan yang ke IV, dalam mukadimahnya membubuhkan angka tahun 1979
M.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 7/Tahun XVII/1434H/2013.
Diterbitkan Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo – Purwodadi
Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-761016] diPublikasikan oleh http://faizmuslimshop.blogspot.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar